Tahun 2015, kehidupan Ibu Prapti dan suaminya, Bapak Hernawan, berubah drastis. Nyeri akibat saraf kejepit di lengan kanan membuat aktivitas sederhana terasa berat—mulai dari mengangkat barang hingga menyetir kendaraan.


Di tengah keterbatasan itu, sebuah rekomendasi sederhana membuka harapan baru.

Seorang teman menyarankan Ibu Prapti mencoba minyak herbal sebagai perawatan pendamping. Saat itu, Minyak Herbal Kutus Kutus dikenal luas lewat cerita antar-pengguna, bukan iklan besar.

“Awalnya kami hanya ingin mencoba,” kenang Ibu Prapti.

Selama satu bulan penuh, minyak tersebut dibalurkan secara rutin sebagai bagian dari perawatan harian.

Perubahan tidak terjadi seketika. Namun memasuki bulan kedua, nyeri di lengan kanan mulai berkurang. Aktivitas harian kembali bisa dilakukan tanpa rasa sakit berlebihan. Pada bulan ketiga, kondisi Ibu Prapti nyaris pulih sepenuhnya.

Pengalaman inilah yang kemudian mendorong pasangan asal Bandung ini untuk berbagi cerita.

Ibu Prapti bergabung dengan komunitas pengguna Kutus Kutus, tempat para pemakai saling bertukar pengalaman dan belajar cara penggunaan minyak herbal Kutus Kutus yang aman dan tepat.

Tak hanya berbagi pengalaman, Ibu Prapti dan Bapak Hernawan mulai membantu memperkenalkan Kutus Kutus ke lingkungan sekitar—sekolah, kantor, hingga komunitas lokal.

“Bulan pertama kami coba serius, ternyata bisa terjual sekitar 250 botol,” ujar Bapak Hernawan.

Bagi mereka, ini bukan semata angka, melainkan tanda kepercayaan.


ibu prapti dengan komunitas

Keseriusan tersebut membawa mereka diundang langsung ke Bali untuk melihat proses produksi. Di sana, mereka memahami filosofi di balik Kutus Kutus—mulai dari penggunaan bahan herbal alami hingga komitmen terhadap legalitas produk.

Dengan dukungan legalitas seperti BPOM dan HAKI, serta jaringan komunitas yang terus berkembang, Ibu Prapti dan Bapak Hernawan berhasil membawa Kutus Kutus masuk ke jaringan ritel yang lebih luas.

“Legalitas dan testimoni nyata membuat kepercayaan pasar tumbuh dengan sendirinya,” kata Ibu Prapti.

Kini, fokus mereka adalah membina sub-distributor di berbagai daerah, tetap dengan pendekatan komunitas dan edukasi.

Bagi Ibu Prapti dan Bapak Hernawan, perjalanan ini bukan sekadar bisnis, melainkan kelanjutan dari pengalaman pribadi yang tulus—tentang bagaimana kepercayaan dibangun dari cerita nyata, bukan janji berlebihan. ***