Banyak orang mengenal aroma Kutus Kutus. Tidak semua mengetahui keheningan yang menyertainya.
Sebelum menjadi produk yang digunakan banyak keluarga, Kutus Kutus lahir dari ruang paling sederhana: dapur rumah. Di sanalah almarhumah Ibu Lilies Susanti Handayani meramu minyak balur dengan kesabaran, doa, dan kepedulian seorang ibu.
Ia meracik bukan untuk pasar, melainkan untuk orang-orang yang dicintainya. Racikan itu menemani tubuh yang lelah, untuk memberi rasa hangat ketika sakit datang tanpa permisi.
Bagi Ibu Lilies, meramu adalah bentuk pengabdian. Setiap tetes adalah perhatian. Setiap proses adalah niat baik. Tidak ada janji besar, tidak ada ambisi melampaui kebutuhan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa merawat adalah bagian dari mencintai.
Waktu berjalan. Ibu Lilies telah berpulang. Namun nilai yang ia tinggalkan tidak ikut pergi.
Fazli Hasniel Sugiharto yang akrab disapa Arniel adalah saksi dari perjalanan itu. Ia tumbuh bersama aroma ramuan, menyaksikan kesungguhan seorang ibu menjaga kualitas, dan memahami bahwa warisan sejati bukan terletak pada nama, melainkan pada tanggung jawab untuk menjaga maknanya.
Bagi Arniel, tugas itu sederhana sekaligus berat: memastikan bahwa apa yang dahulu diracik dengan kasih tidak berubah arah ketika bersentuhan dengan dunia yang lebih luas. Bahwa nilai tidak dikalahkan oleh kecepatan. Bahwa kepercayaan tidak dikompromikan oleh kepentingan sesaat.
Hari ini, Kutus Kutus digunakan oleh banyak keluarga di berbagai tempat. Masing-masing memiliki cerita sendiri. Namun satu benang merah tetap sama: keinginan untuk dirawat dengan cara yang tenang, jujur, dan bertanggung jawab.
Jika Anda telah lama bersama Kutus Kutus, Anda bukan sekadar pengguna. Anda adalah bagian dari perjalanan nilai yang terus dijaga—agar apa yang lahir dari kasih tetap sampai dengan utuh, aman, dan bermakna. ***











