Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kata "sehat" mungkin masih cukup. Cukup tidak sakit, cukup bisa beraktivitas, atau cukup tidak perlu ke dokter.
Tapi coba tanya pada diri sendiri: apakah hanya itu yang kita inginkan?
Sejak pandemi Covid melanda dunia, ada perubahan diam-diam namun fundamental dalam cara kita memandang tubuh dan kehidupan. Bukan sekadar tentang survive, tapi tentang thrive. Bukan hanya panjang umur, tapi bagaimana mengisinya dengan kualitas.
Dunia menyebutnya wellness.
Ketika Dokter Menciptakan Istilah yang Tak Sepenuhnya Milik Mereka

Anehnya, istilah wellness yang kini menjadi gaya hidup global ini justru lahir dari seorang dokter. Pada 1950-an, Dr. Halbert L. Dunn memperkenalkan konsep "High-Level Wellness" dalam bukunya yang terbit 1961. Dia adalah seorang dokter yang menjabat sebagai kepala National Office of Vital Statistics Amerika Serikat.
Baginya, kesehatan bukan sekadar titik di antara sakit dan tidak sakit. Ia mendefinisikan wellness sebagai "cara fungsi yang terintegrasi yang berorientasi pada pemaksimalan potensi yang mampu dicapai oleh individu".
Namun konsep ini butuh waktu hampir dua dekade untuk benar-benar mengudara. Baru pada 1970-an, wellness mulai menjadi perbincangan hangat berkat tokoh-tokoh seperti John Travis yang membuka Wellness Resource Center di California.
Lalu, Donald Ardell menerbitkan buku laris “High Level Wellness: An Alternative to Doctors, Drugs, and Disease” pada 1977 . Ardell dengan berani menyatakan bahwa wellness adalah "pilihan untuk mengambil tanggung jawab atas kualitas hidup Anda".
Di sinilah letak perbedaan mendasar. Dalam model atau pendekatan medis, dokter adalah otoritas. Dalam pendekatan wellness, individu adalah aktor utama.
Seorang dokter sangat ahli dalam mendiagnosis penyakit dan meresepkan obat. Tapi siapa yang lebih tahu tentang kebahagiaan, tentang makna hidup, tentang hubungan sosial yang menyehatkan, tentang pekerjaan yang memberi kepuasan batin? Jawabannya: kita sendiri.
Wellness bukanlah monopoli profesi medis. Ia adalah ranah lintas disiplin: psikologi, sosiologi, filsafat, bahkan kebijakan publik. Wellness menegaskan bahwa kesehatan adalah hasil dari pilihan hidup, bukan sekadar keberuntungan genetik atau akses ke rumah sakit.
Wellness Indonesia: Momentum dan Tantangan

Di Indonesia, kesadaran akan wellness mulai menemukan momentumnya dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi mengubah cara pandang kita terhadap kesehatan.
Bali menjadi lokomotif. Pada Agustus 2023, inisiatif medical wellness tourism resmi diluncurkan di Pulau Dewata. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata menggandeng berbagai pihak, termasuk akademisi UGM dan operator lokal, untuk membangun ekosistem wellness yang terintegrasi.
Titik penting lainnya terjadi pada Oktober 2024, ketika Indonesia untuk pertama kalinya melakukan promosi medical wellness tourism di Indonesia House Amsterdam, Belanda.
Dalam acara tersebut, produk-produk wellness dari Bali—mulai dari paket medical check-up, terapi detoks ala Bali, hingga perawatan lansia—ditawarkan kepada pasar Eropa. Ini adalah langkah konkret bahwa Indonesia serius mengambil posisi dalam peta wellness global.
Tak hanya Bali, Kabupaten Tegal pun ikut bergerak. Oktober 2025 lalu, RSUD dr. Soeselo Slawi meluncurkan program Medical Wellness Tourism di Pemandian Air Panas Guci.
Program ini menawarkan paket layanan yang memadukan hidroterapi, forest bathing mindfulness, medical check-up, akupunktur, hingga konsultasi jamu.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, guru besar kebijakan dan manajemen kesehatan UGM, menyebut air panas Guci begini, "Air panas terbaik di Indonesia karena tidak berbau, tidak berwarna, jadi betul-betul jernih dan panas. Sayang kalau hanya digunakan untuk mandi dan berenang, padahal bisa dimanfaatkan untuk berobat."
Namun di balik optimisme ini, ada catatan penting. Begini, lanjutan penegasan Prof. Laksono, "Malaysia dan Thailand sudah lebih maju, padahal Indonesia memiliki keunggulan biaya dan sumber daya, namun butuh strategi, pelatihan, dan kemandirian agar tidak bergantung lama pada tenaga asing."
Pernyataan ini adalah pengingat bahwa potensi besar belum tentu menjadi keunggulan kompetitif tanpa kerja keras dan strategi yang tepat. ***










