Pergeseran gaya hidup ke arah yang lebih alamiah dan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan preventif mendorong pertumbuhan pasar herbal domestik. Namun di balik tren positif tersebut, pelaku industri menilai masih ada persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian serius, yakni rendahnya literasi konsumen terhadap produk herbal.
Data Profil Statistik Kesehatan 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan meningkatnya kecenderungan masyarakat memanfaatkan produk kesehatan non-medis sebagai bagian dari perawatan sehari-hari. Meski demikian, data tersebut juga mencerminkan adanya kesenjangan pemahaman terkait klasifikasi produk kesehatan, fungsi, serta batasan penggunaan produk herbal.
Kondisi ini menempatkan industri herbal pada posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, permintaan pasar terus tumbuh. Di sisi lain, ekspektasi konsumen kerap tidak sejalan dengan karakter produk herbal termasuk minyak herbal yang bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan berkelanjutan, bukan solusi instan.
“Masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, yang disalahkan sering kali produknya, bukan pemahamannya,” ujar Fazli Hasniel Sugiharto, Senin (9/2/2026).
Fazli Hasniel—yang akrab disapa Arniel—merupakan figur yang terlibat dalam perjalanan dan pengembangan Kutus Kutus. Arniel merupakan pewaris resep racikan Almarhumah Ibu Lilies Susanti Handayani dan kini menjadi owner Kutus Kutus.
Arniel menilai rendahnya literasi konsumen membuat pasar herbal berkembang secara tidak merata Produk dengan klaim berlebihan cenderung lebih cepat menarik perhatian pasar.
Sementara itu, pelaku usaha yang menekankan edukasi justru menghadapi tantangan komunikasi yang lebih besar. Akibatnya, persaingan di pasar tidak selalu ditentukan oleh kualitas dan konsistensi, melainkan oleh persepsi jangka pendek.
Situasi tersebut diperparah dengan maraknya produk herbal yang beredar tanpa informasi memadai. Bagi konsumen awam, membedakan produk yang aman, terdaftar, dan digunakan secara tepat menjadi tantangan tersendiri, sehingga risiko salah penggunaan pun meningkat.
Arniel yang telah berkecimpung di sektor herbal selama lebih dari 15 tahun menilai, kondisi ini berpotensi merugikan dua pihak sekaligus. Di satu sisi, konsumen berisiko kecewa atau salah kaprah. Di sisi lain, pelaku industri lokal yang berupaya menjaga standar harus bekerja ekstra untuk membangun kepercayaan publik.
“Industri herbal yang sehat membutuhkan konsumen yang teredukasi. Tanpa itu, pasar akan terus didominasi oleh narasi instan yang tidak berkelanjutan,” katanya.
Bagi pelaku industri, persoalan literasi konsumen bukan sekadar isu komunikasi, melainkan tantangan strategis jangka panjang. Edukasi membutuhkan waktu dan konsistensi, serta tidak selalu memberikan dampak penjualan secara instan. Namun tanpa edukasi, pertumbuhan industri justru berisiko rapuh.
Literasi konsumen dinilai menjadi fondasi keberlangsungan industri herbal. Keberhasilan produk tidak hanya ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh sejauh mana konsumen memahami cara dan tujuan penggunaannya.
“Produk herbal seharusnya dipahami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan perawatan pendukung, bukan sebagai pengganti pengobatan medis. Jika ekspektasi ini sejak awal keliru, hubungan antara produk dan konsumen tidak akan sehat,” ujar Arniel.
Peran Media dan Regulasi
Kepercayaan publik menjadi aset penting dalam industri herbal. Berbeda dengan produk medis yang memiliki jalur klaim dan pembuktian klinis yang ketat, produk herbal sangat bergantung pada kepercayaan konsumen terhadap produsen dan informasi yang disampaikan.
Dalam konteks ini, literasi tidak hanya mencakup pemahaman fungsi produk, tetapi juga kesadaran akan batasan dan risiko. Pelaku industri yang transparan dinilai memiliki peran penting dalam membentuk ekosistem pasar yang lebih sehat.
“Pendekatan jujur dan edukatif menjadi pembeda di tengah persaingan yang semakin padat. Membangun kepercayaan tidak bisa instan, dan edukasi yang konsisten merupakan investasi jangka panjang,” katanya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan sejumlah pengamat ekonomi kesehatan yang menilai bahwa industri berbasis kepercayaan membutuhkan waktu lebih panjang untuk matang, namun cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Selain pelaku usaha, media dan regulator juga dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi konsumen. Pemberitaan yang proporsional dan tidak sensasional dapat membantu masyarakat memahami konteks produk herbal secara lebih utuh.
Di sisi regulasi, penguatan pengawasan terhadap klaim produk dan transparansi informasi menjadi faktor penting untuk melindungi konsumen sekaligus mendorong persaingan usaha yang sehat. Tanpa pengawasan yang memadai, klaim berlebihan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap industri herbal secara keseluruhan.
Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan media dinilai perlu diperkuat agar pasar herbal domestik tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas.











