JAKARTA – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan industri herbal, menjaga kepercayaan konsumen menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting dibandingkan menciptakan produk baru. Bagi Fazli Hasniel Sugiharto, yang akrab disapa Arniel Sugiharto, menjaga kepercayaan berarti memastikan Kutus Kutus tetap diproduksi dengan prinsip yang sama seperti ketika pertama kali dirintis pada 2013.

Menurut Arniel sebagai owner Kutus Kutus, berbagai informasi yang beredar di ruang publik kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan konsumen, distributor, maupun komunitas pengguna.

Mulai dari isu bahwa Kutus Kutus sudah tidak lagi diproduksi, beralih tangan, hingga diproduksi oleh pihak ketiga. Ia menegaskan bahwa proses produksi Kutus Kutus tetap dijalankan oleh pihak yang sama dan tidak pernah dialihkan kepada pihak lain.

"Kami memahami bahwa kepercayaan harus terus dirawat. Karena itu, kami merasa penting menjelaskan bahwa Kutus Kutus yang dikenal masyarakat tetap diproduksi dengan filosofi, proses, dan komitmen yang sama sejak awal perjalanan kami," ujar Arniel dalam keterangannya di Jakarta, baru-baru ini.

Warisan Keluarga dan Kesabaran di Kutus Kutus

Bagi Arniel, yang dijaga bukan semata-mata sebuah merek, melainkan sebuah warisan keluarga. Ia mengenang almarhumah Lilies Susanti Handayani sebagai sosok yang meletakkan fondasi nilai-nilai dalam proses peracikan herbal. Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan komposisi bahan alami, tetapi juga ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab dalam setiap tahapan produksi.

Karena itu, hingga kini proses produksi Kutus Kutus masih mempertahankan pendekatan manual. Puluhan jenis herbal tetap diramu dengan sentuhan tangan, bukan melalui sistem produksi massal sepenuhnya berbasis mesin. Bagi Arniel, cara tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap pengetahuan yang diwariskan sekaligus upaya menjaga konsistensi kualitas produk.

"Kami tidak pernah memandang warisan sebagai sesuatu yang bisa diubah hanya demi mengejar kapasitas produksi. Ada nilai yang harus dijaga bersama," kata Arniel.

Kepercayaan Konsumen pada Proses dan Nilai

Komitmen tersebut juga tercermin pada identitas produk. Desain kemasan, karakter produk, hingga filosofi yang menyertainya tetap dipertahankan sebagai bagian dari kesinambungan perjalanan Kutus Kutus. Arniel menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah menjalin kerja sama produksi dengan pihak lain maupun mengalihkan proses pembuatannya kepada pihak ketiga.

Menurut Arniel, dalam industri herbal, konsistensi merupakan bagian penting dari kepercayaan. Konsumen tidak hanya membeli sebuah produk, tetapi juga mempercayai proses, orang-orang di belakangnya, dan nilai yang terus dipertahankan dari waktu ke waktu.

"Bagi kami, menjaga agar Kutus Kutus tetap sama justru merupakan tantangan terbesar. Yang kami rawat bukan hanya produknya, tetapi juga kepercayaan masyarakat yang telah tumbuh selama bertahun-tahun," ujar Arniel.

Kutus Kutus Bagian dari Budaya Hidup Sehat

Di sisi lain, Arniel melihat perkembangan industri herbal Indonesia bergerak menuju pendekatan yang lebih menyeluruh. Produk herbal tidak lagi dipandang sekadar sebagai komoditas, melainkan bagian dari budaya hidup sehat yang bertumpu pada edukasi, komunitas, dan literasi masyarakat.

Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan Ekosistem Wellness Nusantara yang terus diperkenalkan Kutus Kutus melalui berbagai kegiatan edukasi, komunitas, dan pemberdayaan masyarakat. Menurut Arniel, menjaga warisan dan membangun masa depan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

"Wellness selalu dimulai dari kepercayaan. Ketika kepercayaan itu dirawat dengan konsisten, sebuah warisan akan tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman," tutupnya. ***