JAKARTA— Fazli Hasniel Sugiharto, yang akrab disapa Arniel, tidak pernah menyangka bahwa warisan almarhumah ibunda, Lilies Susanti Handayani, akan melalui perjalanan sepanjang dan sedinamis ini.
Apa yang dulu dimulai dari sebuah racikan sederhana di dapur, kini tumbuh menjadi merek minyak herbal yang dikenal luas dengan nama Kutus Kutus. Namun, di balik popularitasnya, ada cerita tentang konsistensi, perubahan, dan pertanyaan tentang apa yang sesungguhnya diwariskan ketika sebuah nama telah menjadi milik publik.
"Bagi saya, Kutus Kutus bukan sekadar merek. Ini adalah warisan yang saya terima langsung dari ibu saya, Lilies Susanti Handayani. Racikan ini adalah bagian dari keluarga kami," ujar Arniel kepada wartawan, belum lama ini.
Kutus Kutus Salah Satu Obat Herbal Tersandar
Pernyataan itu muncul di tengah dinamika industri herbal nasional yang tumbuh pesat. Berdasarkan data BPOM yang dirilis pada 10 Juni 2026, dari sekitar 20.000 izin edar jamu di Indonesia, baru 71 produk yang terstandar sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT). OHT adalah standar kualitas dan keamanan yang ditetapkan BPOM untuk memastikan konsumen mendapatkan produk herbal terpercaya. Kutus Kutus adalah salah satunya—sebuah pengakuan bahwa produk ini telah memenuhi standar kualitas dan keamanan.
Namun, di dunia bisnis yang dinamis, sebuah merek kerap menghadapi berbagai dinamika. Termasuk ketika ada pihak yang mulai membangun narasi bahwa Kutus Kutus sudah tidak eksis lagi, dan bahwa warisan tersebut kini berada di tangan yang berbeda.
Arniel selaku owner Kutus Kutus tidak membantah bahwa ia harus menghadapi berbagai tantangan. "Tapi apa yang saya pegang adalah akar dari semuanya. Racikan ini, formulasinya, dan nilai yang ibu saya tanamkan—itu tidak bisa diubah oleh siapa pun," ujarnya.
Publik Menilai Konsistensi Kutus Kutus
Perjalanan Kutus Kutus mulai berubah arah ketika almarhumah Lilies Susanti Handayani dalam kondisi sakit keras hingga wafat. Tapi Arniel memilih untuk tidak banyak berkomentar soal masa lalu. Baginya, lebih penting untuk melihat ke depan dan tetap menjaga apa yang masih bisa dijaga.
"Saya hanya ingin melanjutkan apa yang ibu saya mulai. Dan saya percaya, publik akan melihat mana yang konsisten dan mana yang hanya berubah," imbuhnya.
Di sisi lain, muncul upaya dari pihak lain untuk terus membangun narasi bahwa warisan Kutus Kutus telah sepenuhnya berubah hingga berpindah tangan. Arniel menanggapi hal itu dengan kepala dingin.
"Jika seseorang ingin membangun sesuatu yang baru, itu adalah hak mereka. Tapi ketika narasi yang dibangun adalah bahwa warisan ibu saya sudah tidak ada lagi, itu yang saya sayangkan. Karena faktanya, saya masih di sini, masih memegang racikan warisan ibu, dan masih hadir untuk masyarakat," katanya.
Pendekatan Komunitas Wellness Nusantara
Arniel terus menggeliat dengan pendekatan Wellness Nusantara yang selaras dengan Kutus Kutus. Dari komunitas lari di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, turnamen tenis Celuk Open di Gianyar, komunitas renang di Riau, komunitas lansia, hingga hadir dalam kirab budaya di Mangkunegaran. Bagi Arniel, hadir di tengah masyarakat adalah cara terbaik untuk membuktikan bahwa warisan ibunya tetap hidup.
Di akhir perbincangan, Arniel menyampaikan pesannya untuk publik.
"Kutus Kutus bukan milik saya pribadi. Ini adalah milik semua orang yang merasakan manfaatnya—mulai dari para lansia, atlet, pelari, hingga ibu-ibu di rumah. Saya hanya penjaga, dan saya berjanji akan terus menjaganya," pungkasnya. ***











