Melihat Anak Muda Kembali ke Tradisi 

SOLO – Di tengah dominasi media sosial, hiburan digital, dan gaya hidup serba cepat, fenomena yang ditemui Fazli Hasniel Sugiharto saat mengikuti Kirab Malam 1 Suro di Mangkunegaran, Solo, justru menunjukkan hal yang berbeda.

Owner Kutus Kutus yang akrab disapa Arniel Sugiharto itu mengaku terkesan melihat banyaknya generasi muda yang mengikuti prosesi kirab dengan kesungguhan. Mereka rela berjalan tanpa alas kaki selama kurang lebih satu setengah jam dalam suasana hening sebagai bagian dari tradisi tapa bisu menyambut Tahun Baru Jawa.

Tapa Bisu dalam kirab Malam 1 Suro merupakan ritual berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dalam keheningan total. Tanpa berbicara, makan, atau minum. Tradisi ini dimaknai sebagai jalan refleksi diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Saya melihat banyak anak muda yang hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh kesungguhan. Bahkan banyak yang bertahan mengikuti kirab hingga selesai dalam suasana hening. Ini menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki relevansi yang kuat,” ujar Fazli Hasniel Sugiharto.


Kirab Malam 1 Suro yang digelar Pura Mangkunegaran tahun ini diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah. Selain masyarakat Solo, banyak peserta datang dari luar kota untuk merasakan langsung pengalaman mengikuti tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut.

Salah satunya adalah Anang, pemuda berusia 26 tahun asal Bogor, Jawa Barat.

Anang datang seorang diri ke Solo setelah berhasil mendapatkan kesempatan mengikuti kirab melalui pendaftaran daring. Ia menempuh perjalanan panjang dari Bogor naik bus umum dan menginap di penginapan sederhana demi mengikuti prosesi yang baru pertama kali ia rasakan.

“Nggak masalah capek. Kami memang berniat mengikuti kirab ini. Luar biasa rasanya,” kata Anang seusai mengikuti kirab.

Menurut Anang, ketertarikannya berawal dari rasa ingin tahu terhadap tradisi Mangkunegaran yang selama ini ia lihat melalui media sosial dan berbagai pemberitaan.

Secara khusus, ia juga tertarik dengan sosok Raja Mangkunegara, KGPAA Mangkunegara X yang masih muda. Ia mengikuti perjalanan KGPAA Mangkunegara yang populer dengan nama Gusti Bhre.

Setelah melihat Gusti Bhre dari jarak dekat dan apalagi setelah merasakan langsung suasana kirab, ia mengaku ingin kembali mengikuti kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang.

Beberapa temannya di Bogor bahkan mulai tertarik untuk datang setelah melihat foto dan cerita yang ia bagikan sebelum telepon genggamnya kehabisan daya.

Bagi Fazli Hasniel Sugiharto, kisah seperti Anang menunjukkan bahwa generasi muda tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi. Sebaliknya, mereka tetap mencari pengalaman yang memiliki makna dan nilai yang lebih dalam dibandingkan sekadar hiburan sesaat.


Fenomena tersebut terlihat jelas sepanjang prosesi kirab. Ribuan peserta berjalan tanpa alas kaki mengelilingi kawasan Mangkunegaran dalam suasana yang sangat tertib. Lampu-lampu di sepanjang rute kirab dipadamkan. Tidak terdengar percakapan. Yang sesekali terdengar hanyalah suara kibasan jarit para peserta yang memantul dari dinding kawasan keraton.

“Suasananya sangat sulit dilukiskan kecuali dirasakan langsung. Yang membuat saya terkesan bukan hanya prosesi budayanya, tetapi juga bagaimana banyak anak muda bisa larut dan menikmati suasana hening tersebut,” kata Fazli Hasniel Sugiharto.

Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, masyarakat tetap membutuhkan ruang refleksi dan pengalaman yang membantu mereka terhubung dengan nilai-nilai yang lebih mendasar.

Ia juga menilai keberhasilan Mangkunegaran menjaga tradisi tetap hidup dan diminati generasi muda menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat terus relevan tanpa kehilangan maknanya.

“Tradisi tidak harus dipertentangkan dengan modernitas. Justru ketika dunia bergerak semakin cepat, banyak orang kembali mencari pengalaman yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri, komunitasnya, dan akar budayanya,” ujarnya.

Fenomena tersebut, menurut Fazli Hasniel Sugiharto, menunjukkan bahwa di balik kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, masih ada kebutuhan manusia untuk menemukan makna, kebersamaan, dan ruang refleksi dalam kehidupan sehari-hari. ***