Malam itu, ribuan orang berjalan dalam keheningan.
Tidak ada percakapan. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada pula suara telepon genggam yang biasanya begitu akrab mengiringi aktivitas sehari-hari. Hanya langkah kaki yang perlahan menyusuri jalan-jalan di sekitar Pura Mangkunegaran, Solo.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh distraksi, suasana seperti itu terasa langka.
Bagi Fazli Hasniel Sugiharto yang akrab disapa Arniel Sugiharto, pengalaman mengikuti Kirab Malam 1 Suro Be 1960 secara penuh menjadi momen yang meninggalkan kesan mendalam. Selama kurang lebih satu setengah jam, ia berjalan tanpa alas kaki bersama ribuan peserta lain dalam prosesi tapa bisu yang menjadi bagian penting dari tradisi Malam 1 Suro di Mangkunegaran.
“Saya sudah beberapa kali hadir dalam rangkaian Malam 1 Suro di Mangkunegaran. Kali ini saya mengikuti kirab secara penuh. Suasananya sangat khidmat. Ribuan peserta berjalan bersama dalam keheningan dan ketertiban yang luar biasa,” ujarnya.
Kirab Malam 1 Suro merupakan salah satu tradisi yang terus dijaga oleh Pura Mangkunegaran. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Raja Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X, dan selalu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Namun bagi Arniel, pengalaman tersebut tidak sekadar menjadi kesempatan untuk menyaksikan sebuah tradisi budaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ada sesuatu yang lebih dalam yang ia rasakan selama perjalanan mengelilingi kawasan Mangkunegaran malam itu.

Di tengah keheningan, ia melihat bagaimana ribuan orang dengan latar belakang berbeda dapat berjalan bersama dalam suasana yang tertib dan penuh penghormatan. Tidak sedikit pula generasi muda yang mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Pemandangan itu menghadirkan pertanyaan sederhana sekaligus menarik: mengapa tradisi seperti ini masih mampu bertahan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat?
Menurut Arniel, jawabannya tidak terletak pada kemegahan acara ataupun aspek seremonial semata.
Daya tarik tradisi justru terletak pada nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Saya melihat banyak anak muda yang hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan penuh kesungguhan. Ini menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki relevansi yang kuat,” katanya.
Di era digital, masyarakat dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Teknologi membuat banyak hal menjadi lebih mudah dan lebih cepat.
Namun pada saat yang sama, banyak orang mulai merasakan kebutuhan untuk kembali menemukan keseimbangan.
Bukan dengan meninggalkan modernitas, melainkan dengan mencari ruang-ruang yang memungkinkan manusia kembali terhubung dengan dirinya sendiri, dengan komunitasnya, dan dengan nilai-nilai yang memberi makna dalam kehidupan.
Bagi Fazli Hasniel Sugiharto, Kirab Malam 1 Suro menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi mampu menghadirkan ruang refleksi tersebut.

Tradisi tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kemajuan. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan yang terus berlangsung, manusia tetap membutuhkan akar yang menjaga identitas dan keseimbangan hidup.
Ia juga mengapresiasi bagaimana Mangkunegaran terus merawat tradisi tanpa kehilangan relevansinya bagi generasi muda.
Di tengah meningkatnya perhatian berbagai kalangan terhadap warisan budaya Nusantara, Mangkunegaran menunjukkan bahwa tradisi tidak harus membeku menjadi kenangan masa lalu. Tradisi dapat terus hidup, berkembang, dan tetap bermakna bagi masyarakat masa kini.
“Yang saya lihat bukan hanya pelestarian tradisi. Saya melihat bagaimana nilai-nilai budaya dapat tetap hidup dan diterima oleh generasi sekarang tanpa kehilangan maknanya. Ini sesuatu yang sangat penting,” ujarnya.
Pengalaman mengikuti Kirab Malam 1 Suro akhirnya menjadi lebih dari sekadar menghadiri sebuah acara budaya.
Bagi Fazli Hasniel Sugiharto, perjalanan itu menjadi pengingat bahwa kemajuan dan tradisi tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Justru ketika dunia bergerak semakin cepat, banyak orang kembali mencari hal-hal yang membantu mereka tetap terhubung dengan akar kehidupan: keluarga, komunitas, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi.
Mungkin karena itulah, di tengah dunia yang terus berubah, tradisi masih tetap dicari. Bukan karena manusia ingin kembali ke masa lalu. Melainkan karena manusia membutuhkan pijakan untuk melangkah ke masa depan. ***











