Komunitas sebagai Ruang Belajar & Tumbuh Orang Tua
Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak orang tua muda kini tidak lagi hanya mengandalkan internet untuk mencari jawaban atas berbagai tantangan dalam membesarkan anak. Mereka mulai mencari ruang yang lebih dekat, lebih hangat, dan lebih nyata: komunitas.
Fenomena inilah yang semakin terlihat di berbagai kota di Indonesia. Komunitas keluarga tidak lagi sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman, saling menguatkan, sekaligus membangun kebiasaan-kebiasaan baik yang mendukung wellness keluarga.
Bagi Fazli Hasniel Sugiharto yang akrab disapa Arniel Sugiharto, Owner Kutus Kutus, perubahan ini menunjukkan bahwa keluarga modern membutuhkan lebih dari sekadar informasi. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar bersama.
"Kami melihat komunitas berkembang menjadi tempat tumbuhnya kepercayaan. Di sana para orang tua saling berbagi pengalaman nyata, bukan hanya menerima informasi satu arah," ujar Arniel Sugiharto.
Komunitas Menjadi Tempat Belajar Bersama
Pandangan tersebut semakin menguat setelah Kutus Kutus kembali berpartisipasi dalam perayaan ulang tahun kedua BC April 2024 yang berada di bawah naungan Mommils Birth Club di Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari gathering komunitas sebelumnya yang berlangsung pada Mei 2026 di Jakarta Pusat. Dalam rangkaian kegiatan itu, para orang tua tidak hanya mengikuti sesi berbagi pengalaman, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat melalui berbagai aktivitas bersama keluarga.
Menurut Arniel, komunitas seperti ini memiliki nilai yang semakin penting karena para orang tua dapat saling bertukar cerita berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dari pengalaman itulah lahir rasa percaya yang sering kali sulit diperoleh hanya melalui informasi di media sosial atau mesin pencari.
Wellness Keluarga Dimulai dari Kebiasaan Sederhana
Suasana hangat terlihat ketika para ayah ikut dilibatkan dalam berbagai permainan keluarga. Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah lomba membalur anak menggunakan minyak herbal sebelum mengenakan pakaian kepada putra-putri mereka.
Aktivitas sederhana tersebut menghadirkan suasana penuh tawa sekaligus memperlihatkan bahwa perhatian terhadap keluarga dapat diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.
Bagi Arniel, momen seperti itu menggambarkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap wellness.
"Kesehatan keluarga tidak hanya dibangun melalui produk atau layanan. Yang jauh lebih penting adalah hadirnya kebiasaan baik yang dilakukan bersama dan berlangsung secara konsisten," katanya.
Pengalaman Nyata Membangun Kepercayaan
Salah satu kekuatan komunitas adalah hadirnya pengalaman yang dibagikan secara langsung oleh para anggotanya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah ibu menceritakan pengalaman mereka menggunakan minyak herbal sebagai bagian dari rutinitas keluarga. Salah seorang peserta mengaku menyukai aroma Kutus Kutus maupun Djugo karena terasa lembut dan nyaman digunakan di rumah.
"Aromanya lebih soft sehingga anak-anak juga menyukainya. Rasanya lebih nyaman dipakai di rumah bersama keluarga," ungkapnya.
Bagi Arniel, pengalaman sederhana seperti ini memiliki arti penting karena membangun kepercayaan secara alami. Orang tua tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar dari pengalaman sesama anggota komunitas yang menghadapi situasi serupa.
Dari Komunitas Menjadi Budaya Keluarga
Perkembangan komunitas keluarga muda di berbagai daerah menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ruang belajar yang bersifat partisipatif terus meningkat.
Komunitas tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat berkumpul, melainkan sebagai lingkungan yang membantu orang tua bertumbuh bersama.
"Komunitas bukan hanya tempat berkumpul. Komunitas adalah ruang bertumbuh. Ketika pengalaman dibagikan dengan jujur, di situlah kepercayaan tumbuh, dan dari kepercayaan itulah kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga mulai terbentuk," ujar Arniel. ***











