Menopause adalah kondisi natural yang pasti akan dialami oleh setiap wanita semasa hidupnya. Namun, perlu diketahui bahwa menopause bukan hanya berhenti memstruasi namun juga diikuti oleh beberapa perubahan baik secara fisik maupun emosional, sehingga perlu untuk kaum wanita mengetahui apa itu menopause dan bagaimana menghadapinya. Yuk simak penjelasannya di bawah ini. 

Definisi Menopause 

Menopause adalah kondisi amenorea permanen atau tidak menstruasi selama 12 bulan secara berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh proses degeneratif dimana terjadi penurunan fungsi ovarium dan defisiensi hormone esterogen. Kondisi ini biasanya terjadi di rentang usia 45-56 tahun, namun dapat cukup variatif tergantung dari seberapa cepat menstruasi pertama terjadi pada seorang perempuan. Pada fase perimenopause atau sebelum terjadinya menopause, gejala yang paling mudah untuk dikenali adalah memendeknya fase folikular pada siklus menstruasi sehingga terjadi lebih cepat tiap bulannya. 

Apa saja gejalanya? 

Selain siklus menstruasi yang terhenti, sebagai akibat dari defisiensi hormone esterogen dan juga perubahan fisiologis tubuh, maka ada beberapa gejala yang dapat terjadi pada wanita dengan menopause, yaitu: 

  • Sensasi panas tiba-tiba di area wajah, leher, atau dada,
  • Berkeringat saat malam,
  • Palpitasi atau merasa jantung berdebar-debar, 
  • Nyeri kepala sebelah atau migrain, 
  • Gangguan saat berkemih, 
  • Mudah merasa marah atau tersinggung, 
  • Vagina lebih kering, 
  • Mudah cemas dan mood-swings, serta
  • Menurunnya libido. 

Biasanya gejala-gejala ini akan menetap sekitar 7-10 tahun setelah periode menstruasi terakhir yang dialami seorang perempuan. 

Komplikasi Apa yang Dapat Terjadi? 

Peran hormon esterogen pada wanita sangat penting, dimana ketika terjadi defisiensi hormon ini maka akan banyak sistem di tubuh yang mengalami perubahan. Salah satunya adalah transmisi dari serotonin dan noradrenalin yang mengatur stabilitas mood, dimana pada wanita yang mengalami perimenopause kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya gejala depresi. Disaat yang sama, defisiensi esterogen juga berpengaruh pada metabolisme tulang. Itulah sebabnya perempuan lebih mudah terkena penyakit osteoporosis, yaitu kondisi ketika densitas tulang menurun. 

Menurunnya kadar esterogen juga meningkatkan risiko penyakit di sistem kardiovaskular. Hal ini disebabkan terjadinya beberapa perubahan fisiologis pada tubuh sehingga wanita di periode perimenopause dan menopause memiliki risiko 2 sampai 3 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung koroner. 

Kapan Harus Periksa ke Dokter? 

wanita tua mendatangi dokter

Menopause merupakan kondisi yang pasti dialami, namun karena terjadi ketidakseimbangan hormon, terkadang gejala menjadi sulit untuk ditolerir terutama apabila gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika anda sudah merasakan beberapa gejala yang disebutkan di atas, dan gejala tersebut dirasa tidak nyaman atau mengganggu pekerjaan, jangan takut untuk segera berkonsultasi ke dokter dan mendapatkan terapi yang sesuai. Pada beberapa kasus yang ringan, akan diberikan obat-obatan untuk meringankan gejala. Sedangkan, pada kasus ketidakstabilan hormone yang lebih parah akan diberikan terapi hormone secara bertahap. Seluruh terapi hanya boleh dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter. 

Manfaat Minyak Aromaterapi untuk Meringankan Gejala Menopause 

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan minyak aromaterapi memiliki efek yang baik untuk meringankan gejala pada wanita di fase menopause. Minyak essensial yang diaplikasikan dengan pijat utamanya efektif untuk gejala-gejala somatik atau yang berkaitan dengan nyeri dan kelelahan. Beberapa bahan yang ditemukan efektif meringankan yaitu: 

  • Lemon dan lavender untuk gejala yang berkaitan dengan psikologis, 
  • Peppermint untuk gejala yang berkaitan dengan saluran kemih, serta
  • Citrus untuk peningkatan kualitas tidur. 

Hal Yang Perlu Diingat

Meskipun ada banyak perubahan yang akan dialami menuju terjadinya menopause dan bahkan setelahnya, setidaknya mengetahui lebih awal apa saja yang akan terjadi dengan tubuh kita akan membantu dalam menyiapkan diri menghadapi fase tersebut. Menjaga gaya hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, minum air putih yang cukup, serta tidur yang berkualitas akan membantu tubuh untuk bisa melewati fase tersebut dengan lebih baik. Serta jangan takut untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sesegera mungkin apabila mengalami gejala yang mengganggu.