JAKARTA — Industri herbal Indonesia tengah memasuki babak baru. Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup berbasis bahan alam, didorong oleh kesadaran akan kesehatan pascapandemi serta semakin derasnya arus informasi tentang pengobatan alami, telah membuka peluang besar bagi perkembangan industri herbal nasional.
Namun, di tengah pertumbuhan yang menggembirakan tersebut, para pelaku industri sepakat bahwa kepercayaan menjadi faktor utama yang akan menentukan keberlanjutan sektor ini di masa depan. Tanpa kepercayaan, euforia pertumbuhan hanya akan menjadi gelembung yang cepat pecah.
Fazli Hasniel Sugiharto, yang akrab disapa Arniel Sugiharto, sebagai pendiri sekaligus pemegang sah merek Kutus Kutus, mengatakan bahwa Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi salah satu kekuatan herbal dunia.
Indonesia Salah Satu Negara Megabiodiversitas
Berdasar data yang dihimpun dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kesehatan, dan termasuk jurnal Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang diterbitkan pada 4 Februari 2024, Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan hayati yang melimpah. Indonesia menjadi salah satu negara megabiodiversitas dunia dengan sekitar 30.000 spesies tumbuhan berbunga. Dari total 30.000 spesies itu, lebih dari 9.000 di antaranya memiliki khasiat obat.
Selain itu, Indonesia juga memiliki tradisi panjang dalam memanfaatkan tanaman herbal sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Tradisi ini tidak hanya tercatat dalam naskah-naskah kuno seperti lontar-lontar di Bali dan Jawa, tetapi juga hidup dalam praktik keseharian di berbagai daerah, dari Sabang sampai Merauke.
Menurut Arniel, tantangan industri herbal saat ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bahan baku atau tingginya permintaan pasar. Kedua hal tersebut, meskipun tetap penting, telah banyak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan pelaku usaha.
Konsumen Semakin Cerdas Mencermati Setiap Produk
Isu yang lebih krusial adalah bagaimana setiap pelaku industri mampu menjaga kepercayaan masyarakat melalui kualitas yang terukur, konsistensi yang terjaga, dan proses produksi yang bertanggung jawab secara ekologis maupun sosial.
"Masyarakat hari ini semakin kritis. Mereka tidak hanya ingin mengetahui apa yang mereka gunakan, tetapi juga bagaimana produk itu dibuat, nilai apa yang dijaga, dan sejauh mana pelaku usahanya menjaga konsistensi dari waktu ke waktu," ujar Arniel dalam keterangannya di Jakarta, Senin (27/7).
Ia menambahkan publik atau konsumen semakin jeli dalam membaca label. Mereka bisa menelusuri jejak digital untuk perbandingan. Dengan begitu, kepercayaan menjadi fondasi yang akan menentukan masa depan industri herbal Indonesia.
Perkembangan industri herbal nasional ke depan perlu diiringi dengan komitmen pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas produk, membangun sistem produksi yang transparan, serta menjaga nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi kekuatan herbal Indonesia.
Di Balik Produk Herbal: Warisan Pengetahuan Lintas Generasi
Bagi Arniel, industri herbal memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak sektor lainnya. Di balik setiap produk herbal, terdapat pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun lintas generasi—pengetahuan tentang jenis tanaman, waktu panen yang tepat, cara pengolahan, hingga ramuan yang disesuaikan dengan kondisi tubuh tertentu.
Ada pula hubungan yang erat dengan kekayaan alam serta budaya meramu yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama puluhan bahkan ratusan tahun. Inilah yang membedakan produk herbal Indonesia dari produk herbal negara lain yang mungkin lebih mengandalkan pendekatan industrial semata.
"Yang diwariskan bukan hanya produknya, tetapi juga cara berpikirnya. Ada kesabaran dalam meramu, ada penghormatan terhadap bahan alam, ada kearifan dalam membaca kebutuhan tubuh, dan ada tanggung jawab untuk menjaga kualitas dari generasi ke generasi. Nilai-nilai itu tidak boleh hilang ketika industri terus berkembang dan masuk ke jalur yang lebih modern," katanya.
Kutus Kutus Mempertahankan Proses Manual dalam Produksi
Arniel menambahkan bahwa inovasi dan modernisasi tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan industri herbal ke depan. Penggunaan teknologi dalam ekstraksi, pengemasan, hingga distribusi adalah keniscayaan agar produk herbal Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Namun, ia mengingatkan bahwa proses modernisasi tersebut tidak seharusnya menghilangkan karakter, filosofi, maupun kearifan lokal yang selama ini menjadi identitas dan keunggulan herbal Indonesia. Modernisasi tanpa identitas hanya akan melahirkan produk yang seragam dan kehilangan daya saing khas.
"Kami di Kutus Kutus tidak anti-teknologi. Kami menggunakan teknologi untuk pengemasan, untuk distribusi, untuk memastikan keamanan produk. Tetapi di bagian-bagian tertentu, kami memilih tetap manual karena kami percaya ada nilai yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Ketelitian tangan, kesabaran dalam perebusan, doa yang mengiringi setiap proses—itu adalah bagian dari ramuan itu sendiri," jelas Arniel.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Kutus Kutus masih mempertahankan sejumlah proses produksi yang dikerjakan secara manual hingga saat ini. Menjaga proses bukan berarti menolak perkembangan teknologi, melainkan memastikan bahwa setiap tahapan produksi tetap mengedepankan ketelitian dan konsistensi yang telah menjadi ciri khas produk tersebut sejak pertama kali dirintis oleh almarhumah ibunya, Lilies Susanti Handayani. ***











