DI tengah perdebatan yang mengemuka di ruang publik, nama Fazli Hasniel Sugiharto muncul bukan sekadar sebagai pihak dalam dinamika, tetapi sebagai sosok yang membawa cara pandang berbeda tentang sebuah produk.
Bagi Fazli Arniel Sugiharto yang akrab disapa Arniel, Kutus Kutus bukan hanya minyak herbal. Ia adalah proses.
Dari Produk ke Filosofi
Perjalanan Arniel bersama Kutus Kutus tidak dibangun dalam satu momen, melainkan melalui tahapan panjang yang melibatkan eksperimen, pengalaman, dan konsistensi.
Ia berbicara tentang produksi bukan sebagai aktivitas teknis semata, tetapi sebagai praktik yang sarat makna. Dalam setiap tahap, ada keterlibatan langsung—sesuatu yang menurutnya tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh sistem.
“Produk itu bukan hanya hasil akhir,” begitu kira-kira cara pandangnya. “Tapi juga bagaimana ia dibuat.”
Pendekatan inilah yang kemudian menjadi fondasi dari apa yang ia sebut sebagai orisinalitas.
Di Tengah Riuhnya Persepsi Publik Terhadap Kutus Kutus
Belakangan, dinamika hukum dan narasi publik membuat posisi Kutus Kutus menjadi semakin kompleks. Bagi sebagian orang, isu tersebut cukup jelas: ada putusan, ada kepastian. Namun bagi Arniel, realitasnya tidak sesederhana itu.
Ia melihat adanya jarak antara apa yang berkembang di ruang publik dengan apa yang dijalankan di lapangan. Dalam beberapa kasus, persepsi yang terbentuk bahkan berdampak langsung pada hubungan bisnis.
“Ada calon klien yang akhirnya mundur,” ungkapnya dalam sebuah percakapan panjang. Bukan karena kualitas produk dipertanyakan, tetapi karena asumsi yang terbentuk dari informasi yang beredar.
Di titik ini, Arniel mulai menyadari bahwa yang sedang dihadapi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga narasi.
Ketika Narasi Menentukan Arah
Dalam industri yang berbasis kepercayaan, persepsi bukan sekadar pelengkap—ia bisa menjadi penentu. Arniel menyebut bahwa tantangan terbesar saat ini bukan pada produksi, melainkan pada bagaimana produk tersebut dipahami.
Ketika satu narasi menjadi dominan, ruang untuk perspektif lain menyempit. Dan dalam kondisi seperti itu, klarifikasi sering kali datang terlambat. Itulah yang mendorongnya untuk mulai lebih terbuka berbicara. Bukan untuk membantah, tetapi untuk menjelaskan.
Bertahan atau Berubah?
Di tengah tekanan untuk mengikuti arus industri yang semakin besar, Arniel dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: beradaptasi dengan cara yang sama seperti kebanyakan, atau mempertahankan pendekatan yang sudah dijalani sejak awal.
Ia memilih yang kedua.
Bukan karena menolak perubahan, tetapi karena meyakini bahwa tidak semua hal perlu diubah. Dalam pandangannya, menjaga nilai bukan berarti stagnan—melainkan bentuk konsistensi.
Lebih dari Sekadar Nama
Bagi Arniel, perdebatan tentang Kutus Kutus pada akhirnya bukan soal siapa yang memiliki nama. Melainkan tentang bagaimana sebuah produk dipahami.
Apakah ia dilihat sebagai label? Ataukah sebagai proses yang dijalankan secara konsisten?
Pertanyaan ini mungkin tidak memiliki jawaban tunggal. Namun bagi Arniel, satu hal tetap jelas: apa yang ia jaga bukan hanya produk, tetapi nilai yang menyertainya.
Dan di tengah riuhnya narasi, itu adalah sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan.











